Waste4Change: Bukan Sembarang Sampah

Waste for Change

“Adakah adik-adik di sini yang pernah membunuh sesama?” Pertanyaan itu terlontar dalam sosialisasi pengelolaan sampah bertanggung jawab yang diadakan oleh Waste4Change, salah satu wirausaha sosial, bagi para siswa SMA di lima sekolah di Bekasi, Jawa Barat. Tentu saja, mendengar hal tersebut, siswa yang terlibat menggeleng, walau dengan sedikit keraguan.

Memang, tidak banyak orang yang menyadari bahwa manusia, melalui sampah yang mereka hasilkan dan pengelolaannya yang tidak bertanggung jawab telah menyebabkan kematian, termasuk pada sesamanya. Longsor di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di tahun 2005 adalah kejadian konkret yang membuktikan pernyataan tadi. Hujan semalam suntuk, yang juga diperparah dengan konsentrasi gas metan dari dalam tumpukan sampah dengan volume 200x60 m2 menyebabkan longsornya sampah sehinggamenimbun dua desa yang terletak satu kilometer dari TPA. Akibat kejadian ini lebih dari 150 warga tewas tertimbun sampah.

Mengelola sampah memang terdengar sedikit asing di telinga, bukan karena kita tidak mengenal konsep tersebut, tetapi karena kita tidak menjalankannya dengan penuh kesadaran. Kita tidak pernah tahu dan peduli kemana sampah yang kita hasilkan dibawa dan dikelola; apakah sampah tersebut didaur ulang, atau menjadi bencana bagi orang lain.

Di lain pihak, para pejuang muda ini tidak hanya tertarik menyoroti masalah ini, tetapi juga berkomitmen tinggi untuk membantu lebih banyak orang untuk belajar bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkannya. Mereka pun bergabung mendirikan wirausaha sosial bernama Waste4Change.

Adapun pendekatan yang mereka gunakan terdiri dari: Consult, Campaign, Collect dan Create. Mereka memulai siklus pengelolaan sampah tadi dengan penelitian tentang sampah yang dihasilkan organisasi ataupun komunitas, khususnya dari segi jumlah dan jenis sampah. Hasil dari penelitian ini kemudian menjadi dasar bagi usaha mereka memberikan konsultasi kepada organisasi. Tujuannya adalah menginformasikan mereka tentang pendekatan pengelolaan yang tepat (Consult).

Hasil penelitian tadi juga mereka manfaatkan untuk mengedukasi masyarakat luas melalui program Campaign mereka. Kegiatan inilah yang kemudian didukung oleh PT Bank DBS Indonesia (DBSI), yaitu mendukung penuh Waste4Change untuk berbagi pengetahuan dan keahlian bagi anak-anak muda dalam program 3R School Adoption. Diawali di tahun 2015, program ini membantu menggalang kesadaran generasi muda, dimulai dari proyek percontohan bersama lima sekolah: SMA 9, SMA 2, SMA PGRI, SMK 3, SMA 13. Kota Bekasi sendiri dipilih karena Rumah Pemulihan Material (RPM) yang mereka gunakan untuk memproses sampah lebih lanjut dibangun di area tersebut.

Melalui proses edukasi tadi, para siswa diajarkan untuk mengurangi konsumsi barang-barang yang dapat menjadi sampah, sebelum mereka belajar bertanggung jawab dengan memilah sampah secara benar. Cara-cara yang baik dalam mengelola sampah ditularkan, bersamaan dengan kenyataan bahwa ketika sampah dikelola dengan benar, hal tersebut membawa manfaat yang besar bagi masyarakat luas.

Aspek yang amat menarik dari kegiatan Waste4Change adalah kesinambungan dari kampanye yang mereka buat. Saat ini, mereka sedang membangun teknologi dan infrastruktur untuk memastikan sampah yang telah dipilah akan diproses lebih lanjut dan membawa manfaat bagi lingkungan. Mesin pembuat kompos, truk untuk mobilisasi, dan Rumah Pemilahan Material akan digunakan untuk mengubah sampah menjadi bahan mentah kerajinan –yang nantinya dapat menjadi sumber pendapatan lain-lain.

“Berkampanye untuk mengedukasi publik tentang lingkungan hidup memang penting, tetapi itu hanya menyelesaikan seperempat masalah yang ada. Waste4Change tidak hanya ingin menjadi campaigner, tetapi sebagai wirausaha sosial yang mengadopsi tiga prinsip penting: lingkungan, sosial dan ekonomi. Dengan begitu, kami dapat membantu menyoroti siklus lengkap pengelolaan sampah yang berkesinambungan,” jelas Bijaksana Junerosano, Change Executive Officer Waste4Change.

Di Indonesia, pemulung bekerja dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Setiap saat mereka terekspos dengan gas-gas berbahaya ketika sedang memilah sampah, yang membuat mereka sangat rentan terhadap penyakit ataupun kecelakaan. Waste4Change pun mempekerjakan mereka untuk mengumpulkan sampah yang sudah terpilah dari pemukiman, gedung perkantoran ataupun pabrik sehingga mereka dapat bekerja dalam situasi yang lebih baik dan mendapatkan penghasilan tetap.

Berawal sebagai unit usaha dari Greeneration, sebuah wirausaha sosial yang menjadi cikal bakal didirikannya Waste4Change, memperjuangkan isu sosial sejak tahun 2009. Sejak September 2013, mereka bekerja sama dengan Eco-Bali dan mendirikan entitas baru pada November 2014. Dari 4 aktivis, organisasi ini berkembang dan mempekerjakan 18 pekerja penuh waktu dan mengusahakan solusi terintegrasi bagi pengelolaan sampah secara sistematis.

Saat ini, Waste4Change sedang berupaya untuk menjalankan usaha di berbagai unitnya dengan stabil dan melaksanakan proyek-proyek yang telah direncanakan. Tentunya, mereka berharap untuk dapat menyosialisasikan apa yang mereka perjuangkan kepada publik yang lebih luas lagi, memberikan konsultasi kepada lebih banyak organisasi, mengumpulkan dan memproses lebih banyak sampah. Kesinambungan adalah yang utama.