The 4th DBS Metal and Mining Forum 2025: Menavigasi Transformasi Kompleks Sektor Pertambangan Nasional dan Tantangan Trilemma Energi | English

Di tengah harga mineral yang kian terfragmentasi, pelaku industri dihadapi tantangan untuk memastikan energi yang terjangkau, andal, dan berkelanjutan

Indonesia, 27 Nov 2025 - Dengan alam yang kaya akan nikel, tembaga, hingga bauksit, Indonesia memainkan peran kunci bagi lahirnya industri masa depan, termasuk kendaraan listrik hingga solusi energi rendah karbon. Di sisi lain, dinamika geopolitik serta ketidakpastian pasar global menuntun sektor pertambangan nasional memasuki fase transformasi yang semakin kompleks. Menanggapi dinamika tersebut, DBS Bank Ltd (Bank DBS) menggelar The 4th Metal and Mining Forum 2025: Forging Global Connections sebagai wadah bagi para pemimpin industri di seluruh value chain, dari hulu hingga hilir, untuk membahas tantangan sektor yang krusial, perkembangan regulasi, serta tren terbaru sektor logam dan mineral. Forum berbasis industri ini juga menjadi ruang pertukaran pengetahuan dari para ahli di kawasan Asia sekaligus mendorong masuknya investasi asing langsung (FDI) ke Indonesia.

Pemerintah Indonesia menetapkan 47 komoditas sebagai “mineral kritis” karena perannya yang penting bagi pembangunan ekonomi dan pertahanan nasional. Komoditas ini rentan terhadap gangguan pasokan dan belum memiliki alternatif yang memadai, namun tetap menjadi tulang punggung transformasi teknologi global serta menyumbang sekitar 10-11 persen dari PDB nasional. Dalam konteks ini, hilirisasi menjadi kunci, dengan fokus pada peningkatan nilai tambah bijih nikel, tembaga, bauksit, dan berbagai komoditas lainnya.

“Industri mineral global kini menghadapi tekanan dari fragmentasi pasar dan pergeseran geoekonomi. Hambatan perdagangan sejak 2024 paling terasa pada mineral kritis dengan konsentrasi pasokan tinggi, diperparah oleh penerapan tarif impor AS terhadap nikel, seng, dan kobalt, serta pembatasan ekspor logam tanah jarang oleh Tiongkok. Kondisi tersebut mengancam prinsip ‘hukum harga tunggal’ dan mendorong perbedaan harga antar pasar. Di tengah peristiwa tersebut, tantangan ‘trilemma energi’ muncul: bagaimana memastikan keterjangkauan, keandalan, dan keberlanjutan tercapai secara bersamaan agar stabilitas energi tetap terjaga,” ujar Managing Director, Global Head of Metals and Mining, DBS Bank Ltd Mike Zhang.

Kendati kondisi global yang tengah menantang, permintaan logam masih tetap kuat di berbagai komoditas. Dalam satu dekade mendatang, kebutuhan investasi pertambangan diperkirakan mencapai USD 3,5 triliun, dengan Amerika Latin menyumbang sekitar seperempat dari total belanja modal global. Fokus belanja modal ini tetap terkonsentrasi pada tembaga (35%) dan emas (17%), disusul batu bara (14%) dan bijih besi (12%), mencerminkan bahwa sektor mineral tetap menarik meski menghadapi tekanan geopolitik.

“Sentimen industri dalam negeri terus membaik, didorong oleh permintaan yang lebih kuat dan meningkatnya belanja pemerintah. Dengan ruang kebijakan yang masih dimiliki pemerintah dan bank sentral, pertumbuhan ekonomi berpotensi tetap terjaga. Ke depan, perkembangan kebijakan domestik, khususnya fiskal, akan menjadi katalis penting bagi pasar,” ujar Senior Economist DBS Bank Radhika Rao.

Arus Investasi Asing Menguat, Prospek Pengembangan Industri Nasional Kian Cerah

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia muncul sebagai salah satu destinasi utama investasi dari Tiongkok dan Hong Kong. Investasi Tiongkok yang pada 2015 baru mencapai USD 0,6 miliar kini melonjak menjadi USD 8,1 miliar pada 2024. Secara kumulatif, investasi yang masuk pada periode Januari 2019 hingga September 2024 mencapai USD 34,19 miliar atau sekitar 18 persen dari total FDI Indonesia. Kenaikan signifikan ini menegaskan semakin eratnya hubungan ekonomi kedua negara, dengan sektor logam dan pertambangan menjadi pendorong utama di balik aliran investasi tersebut.

“Industri logam dan mineral tengah memasuki fase transformasi yang menuntut efisiensi sumber daya, ketahanan rantai pasok, dan kemampuan membaca dinamika pasar global dengan jauh lebih presisi. Dalam konteks ini, pelaku usaha membutuhkan mitra yang tidak hanya memahami kompleksitas industri, tetapi juga mampu memberikan perspektif yang tajam dan berorientasi ke depan. Sebagai mitra tepercaya untuk mendorong pertumbuhan bisnis, Bank DBS tak hanya menyediakan solusi pembiayaan, tetapi juga analisis pasar yang mendalam dan relevan agar nasabah dapat mengambil keputusan finansial yang tepat sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar global,” ucap Head of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia Anthonius Sehonamin.

Dengan wawasan mendalam di 14 sektor, termasuk logam dan mineral, serta pengalaman dalam membiayai berbagai proyek strategis di koridor Tiongkok–ASEAN, Bank DBS Indonesia memiliki rekam jejak yang kuat dalam mendukung transformasi perusahaan di berbagai tahap rantai nilai. Dukungan ini diperkuat oleh solusi digital RAPID dan IDEAL yang mempermudah proses treasury dan trade, serta kehadiran regional yang menghubungkan Indonesia ke dalam arus perdagangan dan investasi.


[SELESAI]



Tentang DBS

DBS adalah grup jasa keuangan terkemuka di Asia, dengan kehadiran di 19 negara. Berkantor pusat dan terdaftar di Singapura, DBS berada dalam tiga sumbu pertumbuhan utama Asia: Tiongkok, Asia Tenggara, dan Asia Selatan. Peringkat kredit "AA-" dan "Aa1" DBS termasuk yang tertinggi di dunia.

Dikenal dengan kepemimpinan globalnya, DBS dinobatkan sebagai  “World’s Best Bank” oleh Global Finance, “World’s Best Bank” oleh Euromoney dan “Global Bank of the Year” oleh The Banker. DBS berada di garis terdepan dalam memanfaatkan teknologi digital untuk membentuk masa depan perbankan, yang terpilih sebagai “World’s Best Digital Bank” oleh Euromoney dan “Most Innovative in Digital Banking” di dunia oleh The Banker. Selain itu, DBS mendapatkan penghargaan “Safest Bank in Asia“ dari Global Finance selama 17 tahun berturut-turut sejak 2009 hingga 2025.

DBS menyediakan layanan perbankan menyeluruh bagi seluruh nasabah di segmen ritel, UKM, dan korporasi. Sebagai bank yang lahir dan besar di Asia, DBS memahami seluk-beluk berbisnis di pasar yang paling dinamis di kawasan ini.

Didirikan pada tahun 1989 sebagai bagian dari DBS Group yang berbasis di Singapura, PT Bank DBS Indonesia (Bank DBS Indonesia) merupakan salah satu bank dengan sejarah terpanjang di Asia. Beroperasi di 1 Kantor Pusat, 13 Kantor Cabang, 16 Kantor Cabang Pembantu, dan 1 Kantor Fungsional serta 3.011 karyawan aktif di 15 kota besar di Indonesia, Bank DBS Indonesia menyediakan layanan perbankan menyeluruh yang berfokus pada pengalaman nasabah untuk ‘Live more, Bank less’. Bank DBS Indonesia pun memiliki tujuan positif yang melampaui perbankan dan berkomitmen untuk mendukung nasabah, karyawan, dan masyarakat menuju masa depan yang berkelanjutan.

PT Bank DBS Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) serta merupakan peserta penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

DBS berkomitmen untuk membangun hubungan yang berkelanjutan dengan nasabah dengan perbankan yang sesuai budaya Asia. Melalui DBS Foundation, bank menciptakan dampak melampaui perbankan dengan meningkatkan kualitas hidup dan mata pencaharian mereka yang membutuhkan. Bank menyediakan kebutuhan dasar bagi komunitas rentan, serta mendorong inklusi dengan membekali mereka yang kurang terlayani dengan keterampilan literasi keuangan dan digital. Selain itu, bank juga mendukung wirausaha sosial yang inovatif dan menciptakan dampak positif.

Dengan jaringan operasional ekstensif di Asia dan menitikberatkan pada keterlibatan dan pemberdayaan stafnya, DBS menyajikan peluang karir menarik. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi www.dbs.com.