Mengapa Millennials Perlu Menggiatkan Social Enterprise, Bukan Sekadar Social Cause

15 Maret 2018
#LiveKind

Hasil sebuah studi menyatakan fakta yang mencengangkan: sebanyak 9 dari 10 millennials tertarik menggunakan keahlian mereka untuk sebuah cause atau misi baik!

Tentu, ini hasil yang menggembirakan. Millennials bukan lagi hanya mendambakan pekerjaan demi mendapatkan uang, namun mereka mendambakan sebuah kesempatan untuk menggunakan keahlian yang mereka miliki menjadi sesuatu yang berarti dalam pekerjaan mereka. Millennials—lebih dari sekadar ‘nasi’—mencari misi yang bisa membuat mereka merasa memiliki hidup yang penuh dan bisa dibanggakan.

Mungkin ini juga sebabnya banyak millennials dalam beberapa tahun belakangan kerap menggagas berbagai gerakan dan proyek sosial; atau social cause. Bentuknya bermacam-macam. Mulai dari yang berhubungan dengan pendidikan, bencana alam, seni, lingkungan, dan masih banyak lagi.

Kebanyakan menggunakan pengetahuan mereka akan teknologi informasi, media sosial, serta jejaring komunitas dan konten kreatif untuk mengampanyekan social cause yang mereka percayai. Hadirnya berbagai platform penggalangan dana juga memudahkan para millennials mendapatkan dukungan finansial dari orang-orang yang percaya pada misi mereka.

Tentu, ini pertanda baik. Banyak millennials semakin spontan dalam memulai atau mendukung sebuah cause baik—dengan menyebarkan cerita dan mengajak orang-orang mengulurkan bantuan lewat media sosial. Kegiatan volunteering juga semakin banyak diminati sebagai aktivitas yang bisa dilakukan bersama kawan-kawan atau keluarga terdekat.

Bukan hanya itu, berbagai social cause dengan komunitas yang besar juga banyak menarik perhatian brand maupun perusahaan untuk menyalurkan dana lewat kolaborasi dengan berkampanye bersama lewat media sosial. Jadi, semakin banyak social cause, akan semakin baik, bukan?

Benar. Tapi, sebenarnya, akan lebih baik lagi jika millennials mulai beranjak dari social cause dan melirik social enterprise sebagai pilihan karir!

Apakah Social Enterprise Itu?

Social enterprise atau wirausaha sosial adalah sebuah organisasi atau perusahaan yang menggunakan strategi komersial untuk meningkatkan kesejahteraan finansial, sosial, dan lingkungan—untuk memaksimalkan profit sekaligus dampak baik bagi setiap elemen yang terlibat di dalam usahanya.

Lantas, mengapa social enterprise perlu dilirik secara lebih serius dari social cause? Salah satu yang paling jelas adalah perihal kesinambungan atau sustainability. Social cause, yang biasanya digagas secara spontan, lebih banyak mengandalkan penggalangan dana dari donatur dan aksi sukarela untuk menjalankan misinya.

Tapi, ada dua kemungkinan yang timbul dari hal ini: ketergantungan dan keberlangsungan.

Ketergantungan bisa disimak lewat pertanyaan ini: Jika tak ada lagi donatur yang mau menyumbang atau tenaga sukarela yang mau bekerja, apakah social cause kita masih bisa berjalan? Sementara itu, keberlangsungan terkait langsung kepada kemampuan penggagas social cause untuk terus mendukung, mendanai, dan menjalankan misinya. Sampai seberapa jauh dan seberapa lama penggagas social cause mampu melakukan hal ini—apalagi jika mereka masih menyambi misi sosial mereka dengan pekerjaan lain yang menghasilkan?

Social enterprise sebenarnya menjawab dua tantangan di atas. Lewat social enterprise, semakin baik bisnis berjalan dan semakin besar keuntungan yang didapatkan, semakin baik pula dampaknya bagi penggagas, dan misi baik yang dijalankan!

Dengan social entreprise, kita tak perlu lagi tergantung pada donor atau tenaga sukarela. Perusahaan dengan bisnis yang dijalankan akan menjadi penghasil sekaligus pemutar dana—yang bisa didapatkan dari profit atau keuntungan bisnis.

Sementara itu, setiap orang yang terlibat dalam perusahaan juga akan menjadi staf atau karyawan yang mendapatkan gaji; sehingga mereka dapat bekerja secara profesional. Ini termasuk kita sendiri sebagai penggagas! Tak perlu lagi mencuri waktu di tengah pekerjaan utama untuk menjadi volunteer dan melakukan misi sosial! Sekarang, kegiatan yang biasa dilakukan pada saat volunteer bisa malah menjadi pekerjaan utama yang menghasilkan untuk kita!

Dengan semakin berkembangnya perusahaan berbasis sosial yang kita kembangkan, profit yang semakin besar juga bisa digunakan lebih banyak untuk menyokong misi sosial yang kita emban. Dengan demikian, kesinambungan akan tercapai dan keberlangsungan perusahaan serta misi sosial kita juga akan lebih terjamin.

Pada dasarnya, ada 5 elemen yang perlu hadir dalam sebuah social enterprise.

  1. Misi atau dampak sosial
  2. Pemberdayaan
  3. Prinsip bisnis yang etis
  4. Reinvestasi dana untuk misi sosial
  5. Kesinambungan

Bagaimana Kita Bisa Memulai Sebuah Social Enterprise?

Memulai social enterprise hampir sama dengan memulai usaha atau membangun perusahaan sendiri—di bidang apapun. Bedanya, biasanya untuk social enterprise kita bisa memulai dengan 5 pertanyaan ini:

  1. Apakah masalah sosial yang membuat kita ingin membangun social enterprise?
  2. Bagaimana proses pemberdayaan yang akan kita lakukan bersama masyarakat untuk mendukung pemecahan masalah sosial tersebut?
  3. Apa saja prinsip bisnis etis yang akan kita implementasikan?
  4. Apakah kita bisa melihat kegiatan ini sebagai sesuatu yang berkelanjutan dalam jangka panjang, atau hanya menjadi proyek idealis saja?
  5. Akan seperti apakah dampak sosial dari social enterprise kita ini?

Nah, jika tertarik mulai membangun social enterprise, coba jawab dulu 5 pertanyaan di atas, lalu mulai pikirkan skema bisnis apa yang bisa kita lakukan—sesuai dengan minat, pengalaman, maupun keahlian yang kita miliki.

Katakanlah, misalnya, salah satu misi sosial yang paling menggerakkan kita adalah masalah sampah plastik konsumsi—yang datang dari berbagai kemasan tak ramah lingkungan ketika kita berbelanja atau membeli sesuatu.

Social enterprise kita bisa berupa perusahaan produsen kemasan ramah lingkungan yang menawarkan alternatif kemasan ramah lingkungan dengan biaya terjangkau bagi brand-brand tertentu.

Semakin banyak klien yang kita dapatkan—yang beralih ke kemasan ramah lingkungan—semakin besar keuntungan yang kita dapatkan, dan semakin sedikit pula sampah plastik yang beredar!

Bertambahnya jumlah klien pun membuat kita semakin gencar memberdayakan berbagai komunitas desa yang selama ini bergerak mencoba mengatasi masalah sampah, dan melatih mereka membuat berbagai kemasan ramah lingkungan untuk berbagai jenis produk.

Semakin banyak anggota komunitas ini yang dapat menghasilkan kemasan ramah lingkungan, semakin banyak pula orang-orang yang dapat bekerja membuat kemasan-kemasan ramah lingkungan untuk memenuhi permintaan klien! Dan mereka pun bisa mendapatkan penghasilan tambahan—atau bahkan pekerjaan tetap untuk memproduksi kemasan-kemasan ini!

Keuntungan yang kita dapatkan dari bisnis ini juga bisa disuntikkan lagi ke dalam berbagai kampanye untuk mengedukasi konsumen perihal brand-brand baik yang sudah beralih ke kemasan ramah lingkungan. Kampanye ini akan menaikkan awareness mengenai produk kemasan ramah lingkungan kita, sekaligus membuat konsumen lebih kritis akan brand-brand yang masih menggunakan kemasan yang merusak lingkungan.

Akibatnya, akan ada semakin banyak permintaan juga dari konsumen—terutama para conscious shoppers—agar brand-brand beralih ke kemasan alternatif yang lebih baik. Semakin banyaknya tekanan ini akan membuat brand-brand juga mulai mencari alternatif kemasan yang ramah lingkungan dengan harga terjangkau.
Artinya? Pasar bagi bisnis yang kita tawarkan semakin terbuka lebar!

Lantas, Apa Langkah Selanjutnya?

Setelah mendapatkan gambaran yang jelas, mulailah membuat proposal bisnis mengenai social enterprise kita untuk diuji. Coba produksi atau tawarkan jasa kita dalam skala kecil terlebih dahulu, untuk melihat apakah bisnis tersebut menjanjikan dan bisa mendatangkan pembeli atau peminat. Ketika sudah cukup banyak pembeli dan peminat yang mendukung bisnis kita, tandanya kita sudah lumayan siap untuk melebarkan sayap dan memulai social enterprise kita dengan serius!

Kalau kita sama sekali tak punya bayangan dan pengalaman berbisnis, ada baiknya kita juga mencari seseorang yang sudah memiliki social enterprise dan mengobrol dengan mereka. Lebih baik lagi kalau kita bisa menjadikan mereka sebagai mentor. Bertanyalah, dan gali ilmu terlebih dahulu perihal apa saja yang harus kita siapkan dan perhatikan.

Cara lain? Belajar lewat platform online! Copenhagen Business School menawarkan program untuk belajar soal social entrepreneurship di sini. Atau unduh buku dari DBS dan Universitas Indonesia ini yang berisi panduan lengkap mengenai cara memulai wirausaha sosial beserta studi kasus dari dalam dan luar negeri. Kita juga bisa bergabung atau berkonsultasi dengan berbagai inkubator bisnis dan pusat kewirausahaan di beberapa universitas, seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Brawijaya, Universitas Atmajaya, atau Universitas Negeri Makassar.

Bidang Apa Saja yang Bisa Jadi Pilihan Ketika Hendak Membangun Social Enterprise?

Apa saja! Ada begitu banyak permasalahan di dunia ini yang perlu dipecahkan. Jadi, pilih masalah yang dekat dengan diri dan kehidupan kita sehari-hari. Sesuatu yang memang seringkali mengganggu pikiran kita atau menggerakkan kita lebih dari yang lain!

Memang ada 4 bidang yang paling menjanjikan untuk social enterprise saat ini, sesuai dengan Sustainability Development Goals (SDG):

1. Energi yang terjangkau dan terbarukan.

Ekonomi global kita saat ini sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Belum lagi emisi rumah kaca yang mempengaruhi perubahan iklim. Jadi, berbagai upaya mendukung sumber energi yang terjangkau dan terbarukan memang sedang marak. Pendanaan juga terus digelontorkan secara global untuk berbagai upaya dalam bidang ini. Meski hingga tahun 2011 sekitar 20% dari energi dunia sudah menggunakan sumber energi yang terbarukan, 1 dari 7 orang masih kekurangan akses akan listrik. Karenanya, permintaan akan sumber energi akan terus tinggi.

2. Pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi

Meski ekonomi global mulai membaik setelah krisis tahun 2008, masih saja ada lebih dari 204 juta orang yang tidak memiliki pekerjaan pada tahun 2015. Karenanya, menjadi wirausahawan dan menciptakan lapangan pekerjaan merupakan salah satu hal yang penting—di samping juga terus mengupayakan peniadaan kerja paksa, perbudakan, atau perdagangan manusia.

3. Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab

Tren dunia dengan conscious shopping-nya juga mulai mengarah ke sini. Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan, harus ada perubahan dalam tata-cara produksi. Saat ini, pertanian masih menjadi penyerap air terbesar di dunia, dan irigasi memakan 70% dari keseluruhan air yang digunakan manusia.

Konsumerisme dan produksi yang berlebihan juga membuat banyak produk pertanian yang tidak terpakai atau membusuk. Belum lagi sisa makanan dari berbagai kedai, restoran, dan supermarket, serta sampah industri fashion yang tak laku dari musim-musim sebelumnya. Banyak mata terarah kepada usaha-usaha mendukung konsumsi dan produksi yang lebih bertanggung jawab.

4. Aksi terhadap perubahan iklim.

Saat ini perubahan iklim jadi risiko terbesar yang dihadapi umat manusia; dan dampaknya menyebar begitu cepat dan luas. Emisi karbon semakin meningkat dalam dekade terakhir, meningkatkan suhu global terpanas dalam sejarah pada 2011 – 2015. Lautan es mencapai level terendah, dan koral-koral mati dan memutih akibat naiknya suhu permukaan laut. Karenanya, setiap usaha yang berkontribusi untuk mengurangi dampak perubahan iklim akan mendapatkan perhatian dan dukungan dari banyak pihak.

Bagaimana, sudah mulai terpikir hendak membuat social enterprise apa untuk masa depan yang lebih baik? Apapun pilihannya, pastikan kita memang benar-benar peduli pada isu dan misi sosial yang terkait dengannya, ya!