Tiket Anda
Not Interested

7 Perilaku Millenials Yang Berhasil Mereformasi Dunia Kerja

1 Oktober 2018
#LiveSmart

Dalam dunia kerja, millenials sering dilekatkan pada stigma yang mengganggu. Dari kurang loyal, kebanyakan main medsos dan pemalas. Nyatanya banyak penelitian yang justru membuktikan millenials mereformasi dunia kerja menjadi lebih baik bagi semua orang. Ditambah lagi sekarang millenials sudah mulai menduduki pucuk pimpinan sehingga peluang memperbaiki kultur dunia kerja jauh lebih terbuka. Apa saja 7 perilaku millenials yang berhasil mereformasi dunia kerja?

1. Mendorong pentingnya kesetaraan gender dan inklusifitas.

Studi yang dilakukan Intelligence Group, perusahaan consumer insight, lebih dari 2/3 dari mereka yang berusia 14-34 tahun menyatakan jenis kelamin tidak lagi mempengaruhi perilaku atau nasib seseorang. Hasil riset Pew Research Center juga menyatakan lebih banyak perempuan millenials yang terinspirasi menjadi pimpinan (34%) daripada lelaki (24%). Informasi yang mengalir deras di dunia digital membuka mata millenials bahwa setiap manusia seharusnya memiliki kesempatan sama dalam pekerjaan, termasuk kepada penyandang disabilitas. Pengaruh dunia digital ini juga membuat millenials memiliki sensitivitas terhadap isu sosial yang lebih besar daripada generasi-generasi sebelumnya.

2. Mementingkan inovasi

Bila generasi sebelumnya, baby boomers and generasi X, cenderung berhati-hati dan banyak pertimbangan dalam melakukan perubahan. Dibesarkan dalam lingkungan yang selalu memberikan dukungan dan pujian, millenials memiliki rasa percaya diri yang tinggi sehingga tidak takut mengambil risiko. Mereka juga tidak malu melakukan kesalahan. Kegagalan adalah bagian dari kreativitas yang akan menciptakan inovasi.

3. Memangkas struktur organisasi

Millenials lebih menyukai flat organizational structure yang hanya melibatkan sedikit bahkan sama sekali tidak ada level manajemen. Contoh konkritnya sering kita lihat di struktur perusahaan start up yang cenderung memiliki sedikit pegawai. Proses kepemimpinan berjalan dengan cara yang berbeda dibandingkan struktur organisasi dengan hirarki tinggi yang diterapkan generasi sebelumnya. Struktur organisasi ala millenials mendorong kepemimpinan dalam bentuk yang lain, seperti menjadi koordinator sebuah proyek atau kampanye. Hubungan antara atasan dan bawahan pun cenderung dekat.

4. Menuntut fleksibilitas dalam bekerja

Millenials percaya bekerja bisa dilakukan di mana saja dan kapan pun berkat bantuan teknologi. Mau ambil raport anak sehingga datang telat? Boleh. Memilih kerja di rumah karena ada gangguan listrik pada kereta? Silakan. Inilah definisi work-life balance yang dianut millenials. Bagi mereka hal paling penting adalah semua target pekerjaan tercapai.

5. Menyukai fasilitas yang berpengaruh langsung pada pegawai

Fasilitas yang diharapkan millenials lebih dari sekadar ruang kerja nyaman yang dilengkapi Xbox, bean bags, jus dan cemilan gratis. Menurut survey yang dilakukan perusahaan riset Gallup, millenials menginginkan fasilitas yang memberikan otonomi, fleksibilitas dan kemampuan menjalani hidup lebih baik. Contoh, fasilitas work from home dan training keluar negeri untuk memperkaya kemampuan.

6. Mengubah standar kepemimpinan

Para pimpinan millenials akan memprioritaskan nilai, etos kerja, transparansi, fleksibiiltas dan umpan balik. Mereka ingin bekerja di perusahaan yang memperkaya kemampuannya. Jadi ketika menjadi pimpinan, mereka akan berusaha memberdayakan timnya agar memiliki kemampuan lebih baik. Seperti halnya mereka menyukai kejujuran dan transparansi, maka umpan balik yang diberikan pada bawahan pun akan menekankan kedua hal tadi.

7. Berbasis teknologi

Bila bisa dilakukan melalui email, untuk apa rapat? Millenials menyukai teknologi karena mendorong efisiensi waktu dan tenaga sekaligus mempermudah dokumentasi pekerjaan. Sesuatu yang seringkali membuat generasi sebelumnya tertatih-tatih mengikuti.