Lingkungan kerja yang beragam dan inklusif membentuk rasa memiliki di antara karyawan. Baca lebih lanjut tentang pentingnya, manfaat, dan tantangannya!
Baik dalam menarik bakat terbaik maupun menghasilkan karya terbaik mereka, perusahaan-perusahaan telah lama menyadari manfaat keberagaman di tempat kerja.
Pemimpin perusahaan yang melakukan diskriminasi berdasarkan faktor seperti etnis, budaya, gender, misalnya, akan membatasi kumpulan bakat mereka sendiri,
dan dapat merusak citra perusahaan. Oleh karena itu, sangat penting bagi perusahaan untuk merangkul keberagaman di tempat kerja, serta prinsip-prinsip
kesetaraan gender.
Apa itu keberagaman & inklusi?
Keberagaman dan inklusi adalah konsep yang fokus pada menciptakan lingkungan di mana individu dengan latar belakang,
pengalaman, dan sudut pandang yang berbeda dihormati, dihargai, dan dilibatkan. Keberagaman mengacu pada keberadaan berbagai
karakteristik manusia, seperti etnis, gender, status sosial ekonomi, kemampuan fisik, keyakinan agama, dan lain-lain.
Keberagaman berarti mengakui dan merayakan kualitas dan perbedaan unik yang dibawa individu ke dalam sebuah kelompok atau
organisasi. Keberagaman di tempat kerja mendorong pola komunikasi dengan saling menghormati, sehingga pandangan yang berbeda
menjadi kekuatan bukan kelemahan. Di sisi lain, inklusi adalah tentang memastikan bahwa semua individu diapresiasi, diterima,
dan diberdayakan. Inklusi berarti menciptakan budaya dan praktik yang secara aktif melibatkan dan meningkatkan interaksi
orang-orang dari berbagai latar belakang yang memungkinkan mereka untuk berkontribusi dan berkembang. Inklusi melebihi
representasi semata dan berfokus pada memberikan peluang yang sama, perlakuan yang adil, dan memupuk rasa memiliki bagi
semua orang.
Praktik keberagaman dan inklusi yang sejati melebihi praktik anti-diskriminasi sederhana. Mereka harus tertanam secara
mendalam dan menjadi dasar budaya kerja di kantor-kantor.
Beberapa contoh keberagaman dan inklusi adalah:
- Keberagaman gender, di mana orang-orang dari berbagai gender dihargai secara sama, dan pengusaha menghindari
kesenjangan demografi (misalnya, setiap anggota dari tim memiliki jenis kelamin yang sama).
- Keberagaman budaya, di mana tempat kerja bertujuan untuk mengumpulkan orang-orang dari berbagai keyakinan,
bahasa, dan adat istiadat.
- Keberagaman latar belakang, di mana anggota tenaga kerja dapat berasal dari latar belakang pendidikan,
kelas ekonomi, atau profesional yang berbeda. .
Selain keberagaman dan inklusi, ada juga kesetaraan.
Keberagaman, kesetaraan, dan inklusi (DEI) adalah pendekatan yang lebih luas dan komprehensif yang dibangun dalam
konsep keberagaman dan inklusi. Sementara keberagaman dan inklusi berfokus pada mengakui dan menghargai perbedaan
serta menciptakan lingkungan yang inklusif, DEI mencakup penekanan tambahan pada kesetaraan.
Kesetaraan mengakui bahwa tidak semua individu memiliki akses yang sama terhadap peluang dan sumber daya karena adanya
hambatan sistemik dan latar belakang yang kurang beruntung. Prinsip kesetaraan berfokus pada mengatasi disparitas ini
dan memastikan perlakuan yang adil, akses, dan hasil bagi semua individu.
Dngan keberagaman tenaga kerja global di DBS, kami dengan sengaja memberikan kesempatan yang adil dan membangun budaya
inklusif di mana semua karyawan diperlakukan dengan hormat, diperhatikan dan dihargai. Kami merinci pendekatan terhadap
keberagaman, kesetaraan, dan inklusi, dengan komitmen terhadap kesetaraan upah, mendukung perempuan di bidang teknologi,
representasi yang beragam dalam kepemimpinan, dan lain-lain. Misalnya, perempuan menyumbang sekitar setengah dari jumlah
seluruh tenaga kerja DBS. Perempuan menduduki 40% manajemen senior, dan menggerakkan bisnis serta fungsi terbesar di
seluruh bank. Ada 29% perempuan di tingkat Komite dan 20% di tingkat Dewan Manajemen Grup. Sejak tahun 2022, DBS telah
masuk ke dalam Indeks Kesetaraan Gender Bloomberg untuk keenam kalinya berturut-turut
Keberagaman, kesetaraan, dan inklusi di tempat kerja: manfaat dan tantangan
Manfaat dari Keberagaman, Kesetaraan, dan Inklusi termasuk:
- Pertumbuhan dan retensi kolam bakat karyawan
- Wawasan yang lebih baik tentang berbagai demografi pelanggan
- Mendorong inovasi dan pergeseran paradigma
- Sensitivitas terhadap pesan atau gambar yang bisa disalahartikan
1. Pertumbuhan dan retensi kolam bakat karyawan
Keberagaman, kesetaraan, dan inklusi di tempat kerja tidak hanya penting untuk menciptakan rasa memiliki dan mempertahankan karyawan,
tetapi juga memiliki implikasi signifikan untuk menarik lebih banyak tenaga kerja yang berbakat. Saat kabar tentang lingkungan kantor
yang positif menyebar, sebuah perusahaan kemungkinan besar menjadi tujuan utama bagi bakat baru yang akan datang. Studi telah menyoroti
dampak positif keberagaman, kesetaraan, dan inklusi terhadap kepuasan karyawan, produktivitas, dan kinerja organisasi secara keseluruhan.
Di sisi lain, karyawan yang tidak merasa tempat kerjanya inklusi, lebih cenderung meninggalkan perusahaan. Sehingga mengakibatkan tingkat
pergantian karyawan yang tinggi. Hal ini mengakibatkan, misalnya, biaya tambahan dalam hal waktu dan uang bagi Sumber Daya Manusia (SDM)
untuk mencari karyawan baru dan melatih ulang mereka. Di era saat ini, media sosial dan layanan pencarian kerja, seperti LinkedIn atau
Glassdoor, juga memungkinkan karyawan untuk mengomentari keberagaman di tempat kerja – atau kurangnya keberagaman. Komentar negatif yang
konstan akan lebih menghambat kemampuan unit SDM untuk merekrut secara efektif, dan memengaruhi persepsi orang terhadap sebuah perusahaan.
2. Wawasan yang lebih baik tentang berbagai demografi pelanggan
Dengan merangkul keberagaman, kesetaraan, dan inklusi, perusahaan memperoleh akses ke berbagai perspektif dan pengalaman. Hal ini
memungkinkan tim untuk menghasilkan wawasan yang lebih dalam tentang kebutuhan konsumen, strategi lebih efektif dan kepuasan pelanggan
yang lebih baik. Contoh, dalam industri keuangan karyawan dari berbagai latar belakang sosial ekonomi dapat lebih memahami bagaimana
tujuan keuangan – dan filosofi manajemen uang – berbeda berdasarkan pengalaman. Misalnya, pelanggan dari kelompok usia yang berbeda
memiliki horison investasi yang berbeda, sehingga memerlukan layanan keuangan yang berbeda. Contoh lain, perusahaan yang berupaya
berekspansi keluar negeri akan mendapatkan manfaat dari anggota tim yang sudah memiliki pengalaman dengan orang dan budaya di negara
yang dituju. Adanya keberagaman gender dapat membantu produk dan layanan yang spesifik untuk gender tertentu. Misalnya, akan lebih mudah
menjual produk yang berkaitan dengan kehamilan/kelahiran bag ayah dan ibu, ketika Anda melakukan pembahasan ide dengan berbagai gender
berbeda. Keberagaman di tempat kerja juga membantu pemasaran B2B (bisnis ke bisnis). Misalnya, saat menjual perangkat lunak yang
berhubungan dengan perawatan kesehatan, akan membantu jika tim penjualan menyertakan anggota dengan latar belakang biomedis/biokimia,
bukan hanya insinyur perangkat lunak.
3. Mendorong inovasi dan pergeseran paradigma
Penelitian menunjukkan bahwa tim yang beragam cenderung lebih efektif dalam memecahkan masalah yang kompleks dan hasil inovatif. Dengan
menggabungkan individu dengan pengalaman dan sudut pandang yang berbeda, organisasi akan memiliki akses yang kaya akan pengetahuan dan
keahlian Selain itu, tempat kerja yang inklusif memitigasi bias yang tidak disadari, sehingga menciptakan lingkungan yang adil di mana
ide-ide dievaluasi berdasarkan prestasi. Keadilan ini mendorong karyawan untuk berbagi ide mereka, mengambil risiko, dan menantang
norma-norma yang ada, yang pada akhirnya menghasilkan pergeseran paradigma dalam organisasi. Di DBS, karyawan diperkenalkan pada
pelatihan bias bawah sadar yang membekali mereka untuk memahami berbagai bentuk bias yang tidak disadari dan efeknya terhadap interaksi
di tempat kerja, Mereka juga diajak memahami bias milik sendiri, dan mempelajari strategi untuk mengurangi bias di tempat kerja. Dengan
memupuk keberagaman, kesetaraan, dan inklusi, organisasi dapat memaksimalkan potensi tenaga kerjanya dan mendorong inovasi yang membedakan
mereka dalam lanskap kompetitif.
4. Sensitivitas terhadap pesan atau gambar yang bisa disalahartikan
ASebuah contoh dari ini adalah kampanye "Coolest Monkey in the Jungle" oleh sebuah perusahaan pakaian, pada tahun 2018. Gambar pemasaran
dianggap memiliki nuansa rasial. Ketika ada keberagaman di tempat kerja, seseorang di perusahaan lebih mungkin mendeteksi konotasi negatif
yang tidak disengaja (jika ada), dan memiliki wawasan pribadi tentang bagaimana budaya mereka akan bereaksi. Tentu saja keberagaman,
kesetaraan, dan inklusi tidak mengecualikan kebutuhan akan penelitian yang hati-hati dan sensitivitas budaya.
Membangun lingkungan yang beragam, setara, dan inklusif tidaklah tanpa tantangan
Perusahaan-perusahaan yang telah lama kekurangan keberagaman di tempat kerja lebih cenderung menolak perubahan.
Pemimpin senior harus siap menghadapi penolakan.
Langkah-langkah harus diambil untuk menghindari perselisihan, dan untuk meyakinkan karyawan bahwa keberagaman
di tempat kerja bermanfaat bagi perusahaan dan juga bagi prospek mereka sendiri. Kemungkinan proses perekrutan
memerlukan tinjauan lebih lanjut dan departemen SDM perlu melibatkan ahli eksternal untuk mengurangi risiko bias
yang tidak disadari.
Di Singapura, DBS dipandu oleh Aliansi Tripartit untuk Praktik Ketenagakerjaan yang Adil & Progresif (TAFEP) yang merupakan
serangkaian delapan standar yang mencakup berbagai aspek ketenagakerjaan yang adil. Di negara lain di mana DBS beroperasi,
bank mematuhi praktik pasar terbaik yang serupa. Di Taiwan misalnya, DBS menerapkan praktik perekrutan yang inklusif di mana
satu dari setiap 100 karyawan adalah teman-teman disabilitas.
Keberagaman, kesetaraan, dan inklusi juga mencakup kesadaran akan adanya kesenjangan gender, dan ini mungkin memerlukan perubahan
pada kompensasi karyawan yang sudah ada. Tenaga kerja yang beragam berarti mengakomodasi berbagai praktik budaya, yang mungkin
memerlukan rotasi kerja yang detail. Misalnya, rasa hormat harus diberikan kepada karyawan yang melakukan ibadah secara teratur,
atau yang perlu merayakan acara keagamaan (beberapa di antaranya mungkin bukan hari libur nasional).. Untuk tenaga kerja global
(misalnya, tim kerja jarak jauh), keberagaman di tempat kerja dapat berarti tantangan dalam mengkoordinasikan perbedaan hari
libur nasional; misal, pegawai Singapura akan tetap bekerja pada tanggal 4 Juli (Hari Kemerdekaan Amerika), sedangkan rekan
kerja yang berbasis di AS mungkin tidak memiliki cuti Tahun Baru Imlek.
Meskipun membangun kantor yang beragam, setara, dan inklusif memiliki banyak tantangan, hal ini sangat penting bagi perusahaan
yang ingin tetap bersaing di pasar. Pada akhirnya, manfaat keberagaman, kesetaraan, dan inklusi diperoleh dari dampak sehari-hari
di tempat kerja.. Ketika orang merasa mereka dihormati dan memiliki kesempatan yang sama, akan lebih mudah menghindari gosip
kantor dan lingkungan kerja yang beracun. Karyawan akan mendapatkan manfaat dari rasa memiliki yang membuat pekerjaan – terutama
pada periode stres dan sesekali harus lembur – lebih menyenangkan. Hal ini memiliki manfaat sepadan dalam hal kesejahteraan
mental, dan juga fisik. Pekerjaan juga tetap menarik ketika rekan-rekan selalu memiliki sudut pandang baru. Pada intinya, dampak
keseharian dari keberagaman, kesetaraan, dan inklusi di tempat kerja adalah kantor menjadi tempat karyawan ingin berada, bukan
sekadar tempat yang wajib mereka datangi.