Mengubah Demam K-Pop Menjadi Sensasi Makanan Cepat Saji

Mengubah Demam
K-Pop Menjadi Sensasi Makanan Cepat Saji

Demam K-Pop dan ayam goreng bercitarasa Asia menjadi ide awal bisnis ini

Bagi Michelle Surjaputra, CEO PT Michellindo Food International, menjadi wirausaha selalu menjadi impiannya. Ketika ia kembali ke Indonesia, ia melihat kesempatan besar di industri makanan cepat saji. “Saya mendapati bahwa semua jaringan makanan cepat saji memiliki ayam goreng dengan citarasa Amerika di menunya dan sulit sekali mencari ayam goreng dengan citarasa Asia,” kata lulusan Pasca Sarjana New York University Stern School of Business berusia 26 tahun ini.

Michelle pun mulai memetakan peluang bisnis yang memadukan industri makanan cepat saji dengan meningkatnya tren budaya Korean Pop (K-Pop) di Indonesia.

Kemudian ia menemukan ide cemerlang : mengembangkan produk yang sesuai ke Indonesia melalui BonChon, sebuah jaringan restoran cepat saji dari Korea Selatan yang kini berada di sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta dan semakin mempopulerkan demam makanan Korea.

Michelle E. Surjaputra menerima “Most Promising Category” di Asia Pacific Entrepreneurship Awards 2014 dan menjadi pembicara inspiratif di berbagai talk show dan seminar. Ia mempromosikan wirausaha muda.

“Saya tahu bahwa BonChon akan sukses karena rasa yang ditawarkan tidak asing bagi lidah Indonesia dan komposisinya terdiri dari ayam dan nasi,” lanjut Michelle

BonChon merupakan nama Korea yang berarti “desa asal”. Setelah membuka lokasi pertamanya di Busan, Korea Selatan di tahun 2002, jaringan ini berekspansi ke sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Filipina, Thailand, Singapura, dan Indonesia. Restoran cepat saji ini berbeda dari restoran cepat saji Amerika yang tersebar di Indonesia. Kedua varian ayam goreng BonChon yaitu Original dan Spicy memiliki ciri khas lapisan adonan yang lebih tipis dan dilapisi saus kedelai bawang putih yang mengkilap.

Bisnis Kuliner dengan Pihak Tanpa Latar Belakang Kuliner

Ia memilih BonChon sebagai produk yang dikembangkan di Indonesia karena alasan yang sederhana. Ia sering berkunjung ke cabang BonChon di New York City dan menyukai rasanya. Ayahnya, yang juga membantu menanamkan modal, yakin dengan merek ayam goreng cepat saji ini dan mendukung dia.

Michelle mengerjakan proposal bisnis setebal 50 halaman yang memberinya kesempatan untuk menemui CEO dan Master Franchisee BonChon di Filipina. Ia mengalahkan lima kandidat lain dan berhak menjadi Master Franchisee di Indonesia.

“Untuk mereka, lebih penting mendapatkan seseorang yang mau bekerja keras dibandingkan seseorang yang memiliki pengalaman. Sebagai seseorang yang baru mulai berbisnis, saya akan mendedikasikan 100% waktu saya di BonChon,” katanya.

Negosiasi bisnis berjalan lancar dan ia terbang kembali ke New York City di bulan Oktober 2011 untuk merasakan pengalaman mengelola langsung restoran tersebut. Ia bekerja cepat. Di bulan November, ia mulai melibatkan profesional dan membagikan pengetahuannya. Bersama-sama, mereka menguji coba perbedaan ukuran ayam, jenis minyak serta tepung yang digunakan. Restoran pertama dibuka di Grand Indonesia di Jakarta Pusat pada tahun ini, diikuti cabang di lima pusat perbelanjaan lainnya.

Pemain Baru:
Banyak Tantangan, Terlalu Banyak Peluang

Tentu saja banyak tantangan yang ia yakini akan terus membawa tantangan baru. Awalnya, tantangannya adalah mencari seluruh bahan yang diperlukan untuk memproduksi ayam BonChon. Perlu banyak tes yang diperlukan untuk menjadikan ayam gorengnya sesuai standar.

Lokasi juga menjadi tantangan tersendiri. Ia harus memilih tempat yang tepat untuk mendatangkan para target konsumen. Kami harus mengirimkan proposal ke pengelola pusat perbelanjaan untuk memberi kami lokasi yang tepat, dan hal ini sulit mengingat kami adalah pemain baru.

Seraya bisnis BonChon tumbuh, tantangan barunya adalah menstandardisasi semua pemilik waralaba dan memastikan bahwa kualitasnya semua sama.

Terus Bertumbuh, Rekanan Terpercaya Adalah Kuncinya

Saya percaya pada DBS dalam mengembangkan portofolio saya dan hal ini sangat penting. Saya tidak perlu mengecek pasar modal secara terus menerus dan memperbaharui informasi performa portofolio saya. Dalam kondisi-kondisi khusus, Relationship Manager saya selalu menghubungi saya lengkap dengan ide strategi. Dengan portofolio yang aman, saya dapat berkonsentrasi di bisnis saya.

Untuk meneruskan bisnisnya, pebisnis yang di masa mudanya menghabiskan masa mudanya dengan mengikuti olahraga air dan mengikuti marathon pertamanya di Paris pada tahun 2013 mengatakan bahwa ia memerlukan rekanan untuk menumbuhkan portofolionya.

Michelle telah menjadi nasabah DBS selama dua tahun dan memulai bisnis BonChon ketika ia pertama kali diperkenalkan dengan DBS.

Saya memilih DBS karena DBS adalah bank yang sangat aman, Saya kini merupakan bagian dari DBS Treasures dan turut serta berinvestasi saham, obligasi, dan reksadana. Portofolio saya saat ini tergolong agresif karena saya masih muda dan berani mengambil tantangan. Indonesia sendiri adalah negara berkembang dan apabila kita tidak mengambil keuntungan dari reksadana, uang kita akan mengalami penurunan nilai dengan sangat cepat.

Ketika ditanyakan mengenai pendekatan DBS, ia beropini “Saya suka Bank DBS yang sangat aman dan transparan. Ini memberikan saya kenyamanan.”

Dibawah Grup Michellindo, Michelle berekspansi di bisnis kuliner dengan Sombrero, restoran modern dengan citarasa asli Mexico. Ia juga memulai hobi barunya di bidang busana dengan Lotuz, sebuah brand pakaian siap pakai untuk kelas menengah atas, yang merepresentasikan semangat wanita modern, bersama rekan desainer Yosep Sinudarsono.

SEBARKAN SPARK DI SEKITAR KITA