Memenuhi Hasrat Kuliner Peranakan:
Dari Hobi Menjadi Bisnis yang Menguntungkan

Ada kesenangan tersendiri ketika saya melihat konsumen puas dengan rasa makanan kami. Ada tumbuh rasa bahagia ketika bisnis restoran saya dapat memberikan lapangan pekerjaan bagi banyak orang.

Renaldo Panggabean
Presiden Direktur PT Resanel Prima Utama

Mencicipi Ayam Goreng Ibu Tiri di Restoran Radja Ketjil, siapa saja dijamin akan merem melek. Bisa karena rasa nikmat, bisa juga karena kepedasan. Apa pun yang dirasa, akan membuat tangan tanpa sadar tanpa henti menyuapkan nasi hangat. Apa mau dikata, ayam goreng berbumbu cabai ini memang sangat lezat.

Jangan berhenti di satu menu saja. Coba juga Sayuran Segar Ibu Suri atau Buncis Tongkat Kaisar dan jelajahi kekayaan rempah dalam masakan yang konon khas peranakan.

“Kami khusus menjelajahi Singapura dan Malaysia untuk mencari resep-resep otentik,” kata Renaldo Panggabean. Presiden Direktur PT Resanel Prima Utama ini blak-blakan soal pengalamannya di bisnis kuliner yang dirintis bersama adiknya, Tika Panggabean.

Kuliner adalah passion sekaligus peluang untuk meraih profit bagi Renaldo Panggabean.

Tahun 2007, Renaldo mendapati bahwa restoran peranakan yang menargetkan kelas menengah jumlahnya sedikit.

“Ada restorannya, tapi premium, tidak semua orang bisa menikmati. Saat itu, selera peranakan merupakan sesuatu yang baru di masyarakat. Strategi kami adalah membuka pasar baru dengan menghidangkan masakan peranakan dan suasana peranakan di restoran. Kami memulai perusahaan dengan restoran Radja Ketjil di Terogong, Jakarta Selatan dan ternyata berhasil”, kata Renaldo.

Renaldo menjelaskan perbedaan antara Radja Ketjil dan restoran peranakan lainnya di Jakarta. Menu peranakan ini muncul di Singapura dan Malaysia, jadi sesuai selera orang sana. “Kebanyakan restoran peranakan di Indonesia mengambil menu dari sana untuk dijual di sini. Menurut saya, hal seperti itu belum tentu disukai masyakarat. Di Radja Ketjil, masakan peranakannya diolah, disesuaikan dengan selera Indonesia. Kami kombinasikan menu oriental dengan resep Indonesia asli. Itu bedanya.” ungkap Renaldo.

Tidak Pernah Berhenti Berinovasi

Bisnis restoran cukup ketat persaingannya.
Inovasi yang utama terpada pada menu yang baru, kata Renaldo.
Kalau bisa, beda dengan pesaing. Departemen R&D kami punya dapur khusus untuk riset makanan. Riset produk tidak pernah berhenti, setiap bulan ada presentasi menu baru.

“Apabila enak, disusun SOP resepnya, lalu disimpan. Kalau tidak enak, diperbaiki untuk dicoba lagi. Misalnya untuk Ayam Goreng Ibu Tiri, itu modifikasi masakan khas Gorontalo. Kami temukan di daerah asalnya. Ke Penang juga begitu, cari resep otentik. Kami punya stok resep. Kami selalu melakukan evaluasi menu.”

“Saat evaluasi menu, jika ada yang tidak terlalu bagus penjualannya, segera diganti dengan menu dari stok resep. Perbaruan menu dilakukan minimal setahun sekali, tapi pernah juga setahun dua kali. Inovasi juga kami hadirkan dalam hal experiences. Bisnis restoran itu intinya jasa manusia dan produk. Jadi inovasi harus konsentrasi ke dua hal tersebut. Seseorang masuk restoran pasti ingin mendapat yang bagus, baik itu makanan maupun pelayanan pegawai.”

Renaldo mengelola PT Resanel Prima Hutama tanpa punya latar belakang khusus kuliner. Ia justru mengawali karier di bidang perbankan. Suatu hari di tahun 2007, ia berjumpa beberapa teman yang berpengalaman di bidang restoran. Mereka iseng membicarakan restoran, dan Renaldo memberi masukan soal managerial. “Bahkan waktu ngobrol-ngobrol pun, tanpa rencana apa-apa,” kenangnya.

Saat membuka Radja Ketjil pertama, Renaldo masih setia pada profesi bankir. Ketika restoran itu berhasil dan menerima tawaran membuka cabang di beberapa tempat, ia memutuskan terjun seratus persen mengelola bisnis makanan.

“Banyak tawaran, perlu ekspansi, perlu konsentrasi. Jadi saya putuskan keluar dari bank.” Enam bulan setelah restoran pertama, Radja Ketjil membuka cabang kedua. Kini, ada delapan restoran di bawah bendera PT Resanel Prima Hutama.

Bisnis Kuliner Membuat Saya Bersemangat

Kalau orang suka dan puas dengan makanan di sini, saya punya kebahagiaan tersendiri. Lalu, restoran adalah salah satu usaha padat karya. Kalau bisa mempekerjakan banyak orang, pasti ada nilai positifnya. Buat saya, kuliner adalah bisnis yang sesuai dengan passion sekaligus bisa dapat profit, karena saya hobi wisata kuliner. Saya ingin Radja Ketjil menjadi tempat banyak orang memenuhi kebutuhan makan mereka.

Menangani Tantangan, Investasi Pintarlah Kuncinya

Tantangan terbesar ada pada sumber daya manusia, karena restoran adalah bisnis jasa, servis. Yang diberikan pelayanan dan produk. Mulai dari proses memasak sampai menghidangkan ke pelanggan harus benar. Konsistensi dan kualitas harus dijaga. Peralatan juga menjadi tantangan. Dan bagaimana pun, peralatan dikendalikan oleh manusia. Sekarang yang kami lakukan adalah supaya karyawan bekerja sesuai dengan SOP dan jujur. Kami punya sekitar 300 karyawan. Kami adakan in house training untuk karyawan. Baik yang baru atau lama, mulai dari level kru sampai manajerial secara rutin dapat training, khususnya kalau ada produk dan SOP baru.

“Modal sebenarnya juga jadi tantangan bagi kami. Sebagian outlet ada di mall. Over head-nya tinggi sekali, karena ada biaya sewa, service charge, dan sebagainya. Biasanya pemilik bersama partner setor modal lagi untuk buka outlet baru. Saya ajak orang lain berinvestasi di bisnis ini. Tapi memang enggak sembarangan, hanya kerabat terdekat atau saudara. Omzet kami tergantung lokasi outlet dan hari. Kalau untuk Saribanon, misalnya, harga makanannya lebih murah. Jadi omzetnya berbeda dengan Radja Ketjil.’ Kisarannya 180 juta sampai 400 juta per bulan satu outlet. Bisa bertambah di hari libur.”

Ia mempercayakan investasi pribadinya dengan DBS. “Saya telah menjadi nasabah setia DBS selama lima tahun. Saya diperlakukan seperti rekan sekaligus keluarga mereka. Hingga kini, saya memiliki hubungan yang baik dengan Relationship Manager serta kepala cabang. Seluruh produk yang saya beli menghasilkan hasil yang baik. Saya juga mendapatkan hasil dari valuta, seperti USD, AUD, dan EURO,” jelas Renaldo.

Ia juga membagikan pengalamannya ketika mendapat informasi dari DBS mengenai pasar dan relevansinya bagi produk-produk investasinya. “Tidak ada tawaran yang dipaksakan, jadi saya tidak merasa wajib membeli setiap kali ditawarkan. Itu adalah salah satu alasan saya bertahan sebagai nasabah setia DBS,” kata Renaldo.

“Saya tidak pernah melihat performa DBS menurun, karena menurut saya saat ini performa bank sudah sangat baik. Saya menunggu inovasi baru sebagai tambahan dari produk-produk yang sudah ada untuk menambah keuntungan jangka panjang.”

Seluruh keuntungan yang saya peroleh dari investasi pribadi saya sangatlah berguna dalam ekspansi bisnis saya. Hingga kini, Radja Ketjil telah memiliki 8 outlet di Jakarta, Tangerang, dan Bandung. Lebih jauh lagi, kami sedang mempersiapkan diri untuk mewaralabakan bisnis kami tahun depan diluar Jawa. Itu mimpi saya.

SEBARKAN SPARK DI SEKITAR KITA