Tiket Anda
Not Interested

Yuk, Beri 'Kehidupan' Baru Untuk Si Baju!

28 November 2019
#LiveKind

Kalau lagi santai minum kopi sebelum mulai kerja di pagi hari, kadang muncul banyak pemikiran yang inspiratif. Iya, kan? Mulai dari membayangkan ide-ide ‘liar’ yang siap dieksekusi hingga memikirkan apa saja hal berguna yang sudah kita lakukan selama ini atau yang kita miliki. 

Seringkali, kita bertanya-tanya apa yang harus dilakukan untuk ‘membersihkan’ diri dari benda-benda yang tidak lagi kita butuhkan. Pakaian, contohnya. Dalam benak, kita berpikir bagaimana ‘nasib’ pakaian yang sudah tidak muat lagi atau masih suka dipakai, tapi mengalami sedikit kerusakan. Apakah langsung menuju tempat sampah? Eits, jangan terburu-buru. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk memberikan ‘kehidupan’ baru pada tumpukan baju-baju itu, sekaligus tetap menjaga lingkungan. Penasaran? Intip caranya berikut ini!

#1 Buat Pesta Tukar Baju

Tahu enggak kalau baju kita yang ‘murah’ itu memberikan dampak yang ‘mahal’ pada bumi? World Wildlife Fund (WWF) menyatakan, untuk menumbuhkan satu kapas bahan pakaian, dibutuhkan 715 galon air. Selain itu, seperempat jejak karbon yang dihasilkan dari garmen, berasal dari proses pencucian. Bahkan, proses ini dapat mengurangi masa pakai pakaian sehingga kita akan lebih cepat membuangnya. Karena itu, daripada baju dibuang begitu saja, lebih baik tukar dengan baju lain. Buatlah acara tukar baju kecil-kecilan di rumah dengan mengajak beberapa teman atau anggota keluarga. Minta mereka membawa 5 hingga 10 pakaian mereka yang sudah tidak digunakan, namun masih dalam kondisi baik. Lalu, mulailah pesta tukar pakaian! 

Pada akhir Juli 2019 lalu, Komunitas Zero Waste Indonesia pernah mengadakan acara #TukarBaju di DBS Bank Tower, Kuningan, Jakarta Selatan. Sesuai nama acaranya, semua peserta acara harus membawa baju lama yang akan ditukar dengan ‘baju baru’. Setiap orang diperbolehkan membawa maksimal lima baju atau celana untuk ditukar. Komunitas Zero Waste Indonesia memang fokus melakukan kampanye #TukarBaju sepanjang 2019 sebagai upaya untuk menyadarkan citizen dan netizen agar bijak menggunakan pakaian. Kampanye ini diharapkan juga menumbuhkan industri re-cycling kain demi mengurangi sampah fesyen dan limbah tekstil.

#2 DIY It Into Something New, or Old?

DIY, singkatan dari do it yourself, merupakan istilah yang dipakai untuk membuat atau merakit sendiri barang tertentu. Nah, kita bisa DIY pakaian lama kita, nih. Ubah pakaian lama kita menjadi sesuatu yang fungsional. Mulai dari karpet, selimut, atau tote bag. Dengan menggunakan hula hoop, baju lama bisa berubah jadi keset atau karpet. Atau menjahit 10 buah kaos lama kesayangan menjadi sebuah selimut nyaman nan lucu. Worst case scenario? Gunakan sebagai lap di rumah yang tahan lama, mudah dicuci, dan gratis! 

Kalau kita jatuh cinta dengan pakaian lama, padahal sudah sobek sana-sini dan bukan main belelnya, kita tetap bisa memanfaatkannya. Misalnya, menambal bagian yang sobek pada celana jins dengan renda. Atau, mengubah denim jacket yang belel di bagian lengan dengan cara dipotong untuk menjadi sebuah rompi cantik. Ambil kelas menjahit atau simple workshop, deh, supaya keterampilan menjahit kita semakin ciamik. 

#3 Berikan Langsung Pada Yang Membutuhkan

Kalau kita ingin memberikan support langsung pada korban kebakaran, keluarga baru yang berimigrasi, panti asuhan, atau orang-orang kurang beruntung lainnya, bisa dengan memberikan pakaian layak pakai, lho. Coba saja kumpulkan pakaian apa saja yang sudah nganggur di lemari kita berbulan-bulan, pilih yang masih dalam kondisi baik, terus berikan pada mereka yang membutuhkan. Jangan lupa, benda milik kita yang sudah tidak terpakai, bisa jadi harta karun buat orang lain.

#4 Bikin Garage Sale

Imbas dari terjadinya perkembangan pesat pada dunia fesyen adalah fast fashion. Istilah fast fashion digunakan untuk mendeskripsikan koleksi busana murah meriah yang modelnya mengikuti tren produk branded, yang diproduksi dalam waktu cepat. 

Menurut dosen mode dari University of Leeds di Inggris, Dr Mark Sumner, kini industri fesyen terbagi pada empat musim yang berlaku di sebagian besar negara - yaitu musim semi, panas, gugur, dan dingin. Sehingga, ada banyak produk baru yang hampir setiap bulan bermunculan di toko. Selain memunculkan budaya konsumerisme pada kita, fast fashion juga turut menyumbang pencemaran lingkungan. 

Kalau kita hanya sebentar menggunakan pakaian kita, lalu ‘membuangnya’ dan membeli yang baru, bisa dibilang kita ikut andil dalam mencemarkan lingkungan. Nah, biar kita bisa juga mengajak orang lain untuk menghindari fast fashion, kenapa enggak bikin garage sale saja? Barang-barang yang sudah tidak kita gunakan bisa bermanfaat orang lain, mengurangi sampah tekstil, dan bonusnya kita bisa dapat uang jajan tambahan. Asyik, kan!

Selain melakukan 4 hal di atas untuk memanfaatkan kembali pakaian yang sudah tak terpakai, kita juga mewujudkan bukti cinta pada lingkungan sekitar dengan mendukung kampanye #RecyclemoreWasteless dan #IndonesiaBersihSampah2025 dari DBS Bank. Setiap 1 dukungan dari kita berharga Rp1,000 yang akan digunakan untuk mendukung program edukasi dan pengentasan masalah persampahan oleh DBS Bank. Simak detailnya di sini , deh. Belum puas ‘bebersih’ lingkungannya? Coba 3 cara mengurangi sampah berikut ini, yuk!