Tiket Anda
Not Interested

Waktunya Kerja Cerdas, Bukan Kerja Keras! Yuk, Lakukan 9 Langkah Ini

10 Juli 2018
#LiveSmart

Selama ini kita mungkin berpikir lembur berarti lebih banyak pekerjaan yang bisa diselesaikan. Rumus simpelnya, semakin banyak jam kerja, semakin banyak hal yang dituntaskan. Hmm, ternyata pemikiran ini salah besar! Riset yang diterbitkan oleh John Pencavel Stanford University di tahun 2016 membuktikan produktivitas pegawai menurun setelah mencapai 50 jam kerja dalam seminggu. Hasil akan semakin menurun bila dilakukan 55 jam kerja seminggu. Bahkan seseorang yang bekerja 70 jam kerj seminggu tidak menghasilkan hal yang signifikan dibanding yang bekerja 55 jam kerja.

Kerja cerdas berarti fokus kepada hal-hal yang benar-benar penting. Kita harus menelaah pekerjan sehari-hari, mengetahui mana yang menjadi prioritas dan yang harus didelegasikan kepada orang lain. Mari nikmati hidup dan bekerja lebih cerdas dengan mengikuti 9 langkah di bawah ini:

1. Lakukan satu persatu

Kebanyakan orang berpikir multi tasking bisa menyelesaikan pekerjaan lebih banyak. Nyatanya ini justru membuyarkan konsentrasi. Kita justru lebih produktif bila fokus melakukan tugas satu persatu. Mulai hari kerja kita dengan menuliskan apa saja yang harus diselesaikan di hari tersebut. Fokus pada tugas yang paling penting dulu, lalu lakukan yang lain. Batasi tugas yang paling menantang sebanyak 3-5 hal. Lou Babauta dari ZenHabits mengusulkan bahwa satu dari tugas paling penting tersebut harus berkaitan dengan tujuan kita dan dikerjakan sebelum jam 12 siang. “Kalau terus ditunda, kita akan telanjur sibuk dan kehilangan waktu. Kerjakan segera dan sisa hari akan berjalan lebih mudah,” saran Lou.

2. Fokus pada hasil, bukan waktu

Keharusan duduk di depan meja sampai waktu tertentu menciptakan kultur laksana pabrik yang justru membuat kita kehilangan sensitivitas terhadap tiga sisi alami manusia. Yaitu bahwa ketika otak lelah, maka tidak akan bekerja dengan baik, ide biasanya lahir tanpa paksaan, saat seseorang dipaksa melakukan sesuatu yang di luar kapasitas maka ia akann mulai membenci pekerjaannya. Di sinilah gunanya to-do list yang harus kita buat setiap hari. To do list membuat kita termotivasi dan fokus karena menunjukkan hal-hal yang berhasil dicapai selama sehari. Ditambah lagi ada kepuasan yang muncul saat berhasil mencoret satu persatu hal-hal yang ada di daftar to do list.

3. Kurangi membuat keputusan yang memakan waktu

Alasan Mark Zuckerberg mengenakan pakaian yang sama tiap hari adalah efisiensi waktu dalam memutuskan sesuatu. Coba lihat kegiatan kita sehari-hari yang sebetulnya kurang penting tapi menyita waktu. Seperti memilih warna lipstick atau dasi. Dalam metode bekerja cerdas, terlalu banyak pilihan justru membuat kita semakin tidak efisien.

4. Follow Up

Seringkali pekerjaan kita terkait dengan divisi atau rekan kerja lain. Oleh karena itu penting bila kita melakukan follow up kepada mereka. Lebih baik lakukan follow up melalui email dan di-cc kepada atasan atau pihak lain yang terkait agar semua mengerti urgensi tugas tersebut. Sebelum melakukan pekerjaan yang kompleks dan menuntut kerja tim, buat rencana kerja dan pembagian yang jelas agar setiap orang mengerti kewajibannya.

5. Mempekerjakan Orang Yang Lebih Pintar Dari Kita

Bila kita sudah menjadi atasan sebuah divisi dan membutuhkan pegawai baru, pastikan mereka yang dipekerjakan memiliki kemampuan tertentu yang lebih baik dari kita. Misal, sebagai marketing and communication manager, kita memiliki kelemahan di bidang digital marketing. Maka carilah staf yang memiliki kemampuan digital marketing yang baik. Cari orang-orang yang berbakat dan biarkan mereka melakukan tugas sebaik mungkin untuk kelancaran pekerjaan kita.

6. Istirahat dengan maksimal

Biar bagaimanapun kita butuh istirahat. Jangan paksakan diri makan di depan komputer atas nama lagi sibuk karena dampaknya pikiran justru makin butek. Manfaatkan waktu istirahat dengan melakukan hal-hal yang bisa menyegarkan pikiran. Menurut American Psychological Association strategi melepaskan stres yang paling efektif adalah berolahraga, berdoa atau datang ke layanan rohani, membaca, mendengarkan musik, menghabiskan waktu dengan keluarga atau teman, pijat, jalan kaki, meditasi, yoga dan melakukan hobi yang kreatif. Sementara strategi melepaskan stres yang paling tidak efektif adalah berjudi, belanja, merokok, minum minuman keras, makan, main video game, browsing internet dan menonton TV atau film selama lebih dari dua jam.

7. Memahami pentingnya waktu

Sadari bahwa waktu itu penting untuk kesejahteraan kita. Okelah kita mungkin dibayar lebih banyak saat lembur. Tapi waktu ekstra dua jam lembur tersebut sesungguhnya bisa kita manfaatkan untuk berolahraga atau hang out dengan teman.

8. Asah kemampuan komunikasi

Seperti halnya manusia yang merupakan makhluk sosial, pekerjaan menuntut kemampuan komunikasi dan kolaborasi yang baik. Asah kemampuan kita mendengarkan orang lain, berempati dan mengeluarkan pendapat. Minimalisir miskomunikasi yang tidak perlu dengan mengasah kemampuan-kemampuan tersebut. Misalnya, saat melakukan follow up melalui email, usahakan dalam bahasa yang singkat dan jelas sehingga tidak membingungkan penerima.

9. Manfaatkan mantra motivasi diri

Professor Kelly McGonigal dalam bukunya, Maximum Willpower, membahas tiga aspek motivasi diri demi kerja cerdas, yaitu I will, I won’t dan I want. Memahami ketiga aspek motivasi diri ini bisa meningkatkan tujuan produktivitas kita. Mantra I won’t berarti kita memiliki kekuatan menolak hal-hal yang bisa menghalangi pencapaian tugas. Seperti medsos atau bergosip di kantor. Mantra I will berarti kita fokus pada produktivitas. Contoh, membuat to do list untuk membuat pekerjaan kita efektif. Mantra I want bertujuan agar kita senantiasa teringat tujuan yang ingin dicapai. Ketiga mantra ini hanya akan berhasil bila dipraktekan secara konsisten dan disiplin.