Dapatkan informasi seputar aktivitas dan penawaran menarik dari PT Bank DBS Indonesia, dengan mengisi form di bawah ini:
DBS Live More Society
DBS Live More Society
#LiveAwesome

Ini Dia, Perbedaan Ibu Milenial Dan Ibu Zaman Dulu

By Admin, 30 Juni 2020 #LiveAwesome

DBS Live More Society

Generasi milenial dikenal sebagai mereka yang lahir antara tahun 1980-an hingga awal 2000-an dan kini sebagian besar telah jadi orang tua. Berdasarkan data penduduk, satu dari lima ibu masa kini adalah generasi milenial dan jumlahnya pun mencapai hampir 90% dari 1,5 juta ibu baru.
Kebanyakan ibu milenial tak mau mengaplikasikan pola asuh anak seperti cara mereka dibesarkan dulu.Namun, keinginan ini tak selamanya bisa berjalan mulus. Para ibu milenial dihadapkan pada mitos-mitos dari generasi orang tua yang cukup membingunkan, apalagi bagi ibu baru alias first-time mom. Nah, kalau kamu adalah salah satunya, Content Creator, Tasya, akan memecahkan beberapa mitos yang sering bikin para ibu milenial mengernyitkan dahi.

-

BLW (Baby-Led Weaning) tandanya enggak peduli pada bayi
Menurut Tasya, metode ini sepintas bisa terlihat seakan sang ibu tak memedulikan bayinya karena membiarkan mereka makan sendiri dan bukannya menyuapkan makanannya dari sendok. “Padahal, metode ini juga punya banyak kelebihan, salah satunya untuk merangsang motorik bayi,” jelas ibu satu anak ini.

Bayi yang sering digendong jadi “bau tangan” dan manja
Biasanya mitos ini untuk bayi yang masih kecil. Sebenarnya, mereka butuh digendong untuk menenangkan diri karena saat menggendong, mereka akan merasa layaknya ada di rahim sang ibu. Kebiasaan menggendong juga bisa jadi bentuk bonding bagi anak dan orang tua.

Anak laki-laki tak boleh main masak-masakan
“Masak adalah sebuah life skill,” ujar Tasya. Laki-laki dan perempuan sama-sama harus bisa masak. “Begitu juga dengan anak laki-laki yang enggak boleh main boneka bayi. Justru kita sebagai orang tua yang harus mengajarkan bahwa saat mereka jadi seorang ayah, juga harus menyuapkan makanan atau mengganti popok anak,” lanjutnya.

-

Mengajarkan anak untuk tidak marah dan menangis
Anak justru harus diajarkan mengenali emosi mereka, termasuk emosi negatif seperti marah. “Kita bisa tanya kenapa mereka marah, ajarkan untuk menerima rasa marahnya. Lalu, apa yang harus dilakukan demi menyalurkan emosi tersebut,” jelas Tasya. Tentunya, kita mau ketika anak-anak besar nanti, mereka bisa mengantur emosinya sendiri agar tak jadi output yang negatif. “Marah adalah hal manusiawi,” tutup Tasya.

Salah satu keuntungan para ibu milenial adalah kemudahan untuk mendapatkan berbagai informasi terpercaya. Tak hanya itu, ibu masa kini juga punya akses lebih banyak untuk belanja kebutuhan anak dan rumah tangga. Tapi, pastikan kamu menggunakan kartu DBS saat belanja karena ada banyak promo menunggu

DBS Live More SocietyDBS Live More SocietyDBS Live More SocietyDBS Live More Society

More #LiveSmarter Articles

Cek Artikel lainnya
Anti Ribet, Ini Cara Lapor Pajak Secara Online
#LiveSmarter6 Maret 2020

Anti Ribet, Ini Cara Lapor Pajak Secara Online

Tak terasa, kita sudah harus kembali mengisi Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) pajak penghasilan per orangan. Wajib diketahui bahwa akhir pelaporan surat akan berakhir pada 31 Maret 2020.

Read more
Terinspirasi Dari Cashless Society, GoPay Paparkan Strateginya
#LiveSmarter2 Maret 2020

Terinspirasi Dari Cashless Society, GoPay Paparkan Strateginya

Berkat kecanggihan teknologi, kini transaksi keuangan semakin dimudahkan. Salah satu nama besar yang sukses menerapkan kebiasaan ini adalah GoPay.

Read more
Tahun Baru, Kerjaan Baru. Ini Caranya Biar CV Kamu Dilirik
#LiveSmarter3 Februari 2020

Tahun Baru, Kerjaan Baru. Ini Caranya Biar CV Kamu Dilirik

Momen awal tahun biasanya jadi waktu yang tepat untuk melamar pekerjaan. Nah, siapa tahu kamu akhirnya bisa diterima di kantor impian. Caranya tentu dengan melampirkan CV yang baik dan menarik.

Read more