Demografi & Konsumsi

Ramadan dan Lebaran Jadi Sentimen Positif Meningkatnya Konsumsi Masyarakat

by DBS Indonesia

Ramadan dan Lebaran akan memberikan sentimen positif terhadap peningkatan konsumsi masyarakat. Produsen retail yang menargetkan konsumen, khususnya dari segmen kelas bawah-menengah, akan mendapatkan keuntungan dari momentum Lebaran ini.

Equity Strategist DBS Group Research, Joanne Goh, menjelaskan tingginya konsumsi fast moving consumer goods (FMCG) didorong antara lain kebijakan pemerintah untuk meningkatkan daya beli masyarakat kelas bawah-menengah, rendahnya harga minyak yang saat ini berada di level US$ 52 per barel, serta menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Jika harga minyak tetap berada di bawah US$ 60 per barel, sehingga pemerintah tidak perlu menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, maka secara keseluruhan hal ini akan meningkatkan konsumsi masyarakat. Sementara menguatnya rupiah akan mengurangi tekanan terhadap margin kotor perusahaan-perusahaan yang mengandalkan bahan baku impor.

DBS Research Group, dalam analisisnya pada 1 Maret 2019, Indonesia Consumer and Retail, memperkirakan pertumbuhan pendapatan perusahaan barang kebutuhan sehari-hari akan mencapai 6 persen year on year, sebagian besar karena didukung pertumbuhan volume yang tinggi.

DBS memperkirakan sektor retail akan meraih pertumbuhan pendapatan bersih 11 persen pada 2019 dibanding 13 persen pada 2018. Sedangkan laba bersih tahun ini diperkirakan akan tumbuh 12 persen dibanding 14 persen di tahun sebelumnya dan laba perusahaan barang kebutuhan sehari-hari sepanjang tahun ini akan tumbuh 8 persen dibanding 6 persen pada tahun lalu.

Program-program bantuan sosial pemerintah akan meningkatkan penjualan produsen retail yang menargetkan konsumen kelas bawah-menengah. Selain itu, pertumbuhan pendapatan juga diraih perusahaan dari adanya inisiatif untuk menyesuaikan kebutuhan konsumen serta adanya ekspansi tok0-toko baru.

Goh menjelaskan, perusahaan-perusahaan retail yang menargetkan segmen kelas bawah-menengah akan mendapatkan lebih banyak keuntungan sepanjang tahun ini. Selain program-program sosial pemerintah, tidak naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) bersubdi, serta tidak naiknya tarif listrik membuat daya beli masyarakat kelas bawah-menengah meningkat.

Namun, DBS Research Group juga mengingatkan untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya kenaikan harga komoditas dan depresiasi rupiah pada semester II 2019. Produk barang konsumsi yang memiliki kandungan impor, terkait menguatnya dolar AS, umumnya akan menjadi lebih mahal, yakni di atas 50 persen.

“Ketika bahan baku impor mengalami depresiasi rupiah akan berpengaruh terhadap margin perusahaan,” kata Goh. Kenaikan harga bahan baku, seperti gandum dan susu bubuk, juga berpengaruh kepada perusahaan-perusahaan yang memproduksi produk kebutuhan sehari-hari.

Ekonom DBS memperkirakan sepanjang tahun ini rupiah akan melemah terhadap dolar AS. Sementara dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019, pemerintah menetapkan nilai tukar rupiah di level 15.000 per dolar AS.

Dengan biaya operasional yang besar, perusahaan-perusahaan mempunyai pilihan untuk melakukan promosi dan iklan lewat platform yang lebih murah, seperti iklan di media digital dan promosi langsung. Biaya periklanan dan promosi saat ini merupakan salah satu komponen biaya pengeluaran terbesar, yakni sebesar 25 persen dari biaya operasional perusahaan. Efisien itu diperkirakan akan bisa menjaga margin perusahaan barang-barang konsumsi.

DBS juga mengingatkan terjadinya perubahan struktural pada industri retail. Kompetisi dari toko-toko online kian bertambah kencang dan bisa mempengaruhi para peretail offline, setelah jumlah penduduk Indonesia yang berbelanja online meningkat. Jumlahnya diperkirakan akan terus meningkat selama beberapa tahun ke depan, dipicu dari produk yang ditawarkan dari toko online lebih murah, konsumen merasa lebih nyaman, proses pembelian lewat internet lebih cepat, bisa lebih selektif memilih produk dan penjual, serta jumlah pengguna smartphone juga meningkat.

Bahkan saat ini para pemain e-commerce tidak hanya menjual produk-produknya secara online, tapi mereka juga menawarkan barangnya lewat platform lain berbasis sosial media, seperti Instagram.

Populasi Indonesia saat ini tengah bergeser lebih banyak ke generasi milenial, masyarakat berpenghasilan menengah, dan konsumen pengguna gadget atau teknologi, yang membelanjakan penghasilan tambahan mereka tidak lagi ke pakaian, sepatu, atau tas ke produk-produk lifestyle. Kelompok ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk bepergian dan melakukan aktivitas rekreasi lainnya, seperti makan di luar rumah, minum kopi dan menonton film di bioskop, atau menyisihkan uang untuk ditabung atau investasi.

Perusahaan yang menawarkan produk-produk lifestyle, seperti koper, dan perusahaan yang fokus ke toko atau outlet khusus yang menawarkan makanan dan minuman akan meraih keuntungan dari perubahan perilaku konsumen ini dibanding department store biasa. (*)

Insights Lainnya

top