Digital & Inovasi

Internet of Things Merevolusi Dunia Bisnis

by DBS Indonesia

Pada 2011, BMW Group meluncurkan layanan baru berupa jasa penyewaan mobil. Berbeda dengan penyewaan mobil konvensional, layanan yang diberi nama “DriveNow” menerapkan prinsip berbagi (sharing).

Dengan prinsip ini, konsumen tidak perlu datang ke kantor penyewaan untuk ambil kunci atau mengembalikannya setelah selesai pakai. Hanya melalui aplikasi di smartphone, pelanggan dapat memesan paket sewa lalu ditunjukkan lokasi pengambilan mobil. Kunci untuk mengaktifkan mobil pun cukup memanfaatkan aplikasi.

Melalui sensor yang terdapat di mobil, BMW secara otomatis menghitung durasi penggunaan dan tagihan yang harus dibayarkan pelanggan. Begitu selesai digunakan, mobil dapat ditaruh di tempat parkir umum mana pun, untuk digunakan oleh pelanggan berikutnya.

Sistem layanan sewa mobil ini dimungkinkan dengan adanya ekosistem digital yang saling terhubung satu sama lain, yang dikenal sebagai Internet of Things (Iot). “Kemunculan IoT akan mendefinisikan ulang bagaimana bisnis dan industri bekerja,” kata Sachin Mittal, Tsz Wang Tam, dan Chris Ko, analis di DBS Group Research dalam laporannya “Internet of Things: The Pillar of Artificial Intelligence”, yang dirilis Juni 2018.

Bisnis  bukan lagi menjual produk atau barang, tapi menjual produk sebagai jasa atau layanan berbasiskan data pengalaman pelanggan (customer experience). Data ini menjadi basis untuk mengembangkan dan meningkatkan layanan kepada pelanggan, seperti yang dilakukan BMW dengan DriveNow-nya. Model bisnis ini akan menciptakan pendapatan berulang (recurring revenue) dan hubungan yang lebih erat dengan pelanggan dalam jangka panjang.

DBS Group Research meyakini kombinasi sistem IoT dengan pengembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) akan mewujudkan “dunia baru”. Dalam hal ini, peranan manusia dalam menjalankan kegiatan teknis akan berkurang. Sistem ini tidak hanya berlaku di bisnis sewa mobil ala BMW, melainkan juga dapat diterapkan di pabrik, maskapai penerbangan, rig minyak, perkantoran, hingga rumah pribadi.

Di pabrik misalnya, mesin-mesin yang dilengkapi sensor dapat memprediksi kebutuhan bahan baku atau sekadar melakukan perawatan berkala. Begitu pula maskapai dapat mengetahui status kelayakan pesawat-pesawatnya secara berkala melalui sensor yang ditempatkan di pesawat.

Asia diprediksi menjadi pasar IoT terbesar dunia dalam sepuluh tahun mendatang. Sekitar 36 persen perusahaan di Asia akan mengadopsi IoT dalam operasional bisnisnya, di atas rata-rata global 29 persen. Tak hanya itu, investasi Asia dalam pengembangan kecerdasan buatan mencapai US$ 8,3 juta atau 30 persen lebih tinggi dari rata-rata global US$ 5,5 juta.

Dengan investasi ini, Asia diprediksi mengalahkan Amerika Serikat (AS) dalam pengembangan kecerdasan buatan pada 2025. Tiongkok bahkan telah menjadi investor terbesar dalam pendanaan startup berbasis kecerdasan buatan, mengalahkan AS pada 2017.

Pesatnya penggunaan teknologi IoT di Asia turut dipengaruhi oleh urgensi pengembangan infrastruktur di kota-kota padat Asia. Selain itu, besarnya populasi milenial yang selalu ingin terhubung dengan teknologi juga menjadi tantangan. “Permintaan konsumen, pertumbuhan industri, dan peran pemerintah menjadikan Asia sebagai pasar terbesar IoT,” sebut laporan DBS Group Research.

Korea Selatan, misalnya, mengadopsi platform IoT untuk menunjang sistem smart city, terutamadalam pengendalian lalu lintas, polusi udara, dan pengawasan fasilitas kota. Teknologi IoT juga dimanfaatkan untuk mengembangkan startup.

Asia Tenggara pun diproyeksikan menjadi yang terdepan dalam pasar teknologi IoT di Asia. Singapura merupakan negara yang paling banyak menerapkan IoT di pemerintahan maupun swasta dengan proyeksi pendapatan mencapai 714 juta dolar Singapura pada 2025.Sementara tantangan yang dihadapi Indonesia untuk mengembangkan IoT terutama terkait konektivitas dan regulasi.

Insights Lainnya

top